Indonesia Sudah Merdeka 77 Tahun, namun Warga Kampung Oehenak di Ibu Kota Rote Ndao belum Menikmati Listrik

- Rabu, 21 September 2022 | 11:59 WIB
Sejumlah warga Kampung Oehenak saat memberikan keterangan kepada rotendao.victorynews.id, di kediaman Daniel Ndun, Rabu (21/09/2022). Foto: Victory News - Frangky Johannis
Sejumlah warga Kampung Oehenak saat memberikan keterangan kepada rotendao.victorynews.id, di kediaman Daniel Ndun, Rabu (21/09/2022). Foto: Victory News - Frangky Johannis

ROTE NDAO, VICTORYNEWS - Sungguh sangat ironis! Republik Indonesia sudah Merdeka 77 tahun silam dan Kabupaten Rote Ndao juga telah menjadi Daerah Otonom selama 20 tahun, namun masih banyak masyarakat di kabupaten paling selatan NKRI itu, yang belum merasakan merdeka dari kegelapan.

Salah satu contoh, apa yang dirasakan warga Kampung Oehenak, Dusun II Lekik, Desa Oelunggu, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT.

Sekitar 10 Kepala Keluarga (KK) di dusun itu, belum menikmati terangnya listrik dari pemerintah dalam hal ini PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau lazim disebut PLN.

Warga Kapung Oehenak seperti dianaktirikan oleh PLN, padahal wilayah tersebut masuk dalam Kecamatan Lobalain, yang merupakan ibu kota Kabupaten Rote Ndao.

Padahal, Kampung Oehenak jaraknya dari kantor PLN UPL Rote Ndao kalau digaris lurus hanya 2 kilometer, dan kalau memutar mengikuti jalan raya tidak lebih dari 5 kilometer.

Baca Juga: Kelompok Tani Desa Persiapan Lelain Dapat Bantuan 15 Unit Sumur Gali Dukung Pengembangan Hortikultura

Setiap malam, sebagian besar warga terus-menerus merasakan gelap gulita kampung mereka tanpa ada penerangan listrik. Hanya segelintir warga yang mampu saja dapat menikmati penerangan dengan Bahlamp Led Emergency.

Untuk penerangan malam hari, warga yang tidak mampu terpaksa menggunakan lampu minyak (pelita) atau dalam bahasa Rote disebut ti'oek.

Menurut Sofia Letek-Ndun, salah seorang warga setempat mengatakan,
dirinya bersama suaminya Daniel Ndun membuat rumah sendiri dan tinggal di Kampung Oehenak sekitar tahun 1979.

Halaman:

Editor: Frangky Johannis

Tags

Terkini

X