Warga Binaan dan Pegawai Lapas Kelas III Ba'a Ikut Ibadah Perjamuan Kudus

- Minggu, 31 Juli 2022 | 07:36 WIB
Suasana Ibadah Perjamuan Kudus Triwulan II Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ba'a, yang dipimpin Pdt Jheni Pelokilla-Yoseph, di gedung Gereja Lapas tersebut, Sabtu (30/07/2022). Foto: Dok. Humas Lapas Kelas III Ba'a
Suasana Ibadah Perjamuan Kudus Triwulan II Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ba'a, yang dipimpin Pdt Jheni Pelokilla-Yoseph, di gedung Gereja Lapas tersebut, Sabtu (30/07/2022). Foto: Dok. Humas Lapas Kelas III Ba'a

ROTE NDAO, VICTORYNEWS - Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ba'a, mengikuti Ibadah Perjamuan Kudus Triwulan II, di gedung Gereja Lapas tersebut, Sabtu (30/07/2022).

Ibadah Perjamuan Kudus dipimpin Pdt Jheni Pelokilla-Yoseph itu diikuti oleh seluruh WBP dan pegawai yang beragama Kristen, di Lapas yang terletak di beranda terselatan NKRI, di Pulau Rote.

Pdt Jheni Pelokilla-Yoseph dalam khotbahnya mengabil ayat Firman Tuhan dalam Surat Roma 13:8-14, yang mengajarkan tentang Hidup dalam Realitas Baru. 'Janganlah kamu berhutang apa pun kepada siapa pun kecuali (berhutang) untuk mengasihi satu sama lain'.

Hutang adalah kewajiban yang harus selalu dilunasi. Namun, ada hutang yang akan terus ada, yaitu hutang mengasihi. Ketaatan kepada tuntutan Injil, yaitu mengasihi sesama, merupakan penggenapan dari hukum Taurat (ayat 8-10).

Baca Juga: Tim Forensik Biddokkes Polda NTT Autopsi Jenazah MYN, Anak yang Tewas Dibunuh Ibu Kandungnya di Rote

Mengapa kasih merupakan kegenapan dari hukum Taurat? Karena kasih tidak akan melakukan hal yang jahat terhadap sesama. Dan dalam relasi umat dengan sesama, hukum Taurat merupakan perintah untuk berbuat baik. Maka syukur kepada Allah di dalam Kristus, yang telah memampukan kita untuk mengasihi sesama.

Selanjutnya, Rasul Paulus dalam Surat Roma juga mengingatkan orang percaya untuk memiliki totalitas dalam cara hidup yang baru berhubung dengan realitas barunya di dalam Kristus (ayat 11-14).

Realitas hidup baru menjadi alasan untuk menanggalkan semua cara hidup dalam hidup lama (ayat 12-13). Menanggalkan atribut hidup lama dan mengenakan Kristus (ayat 14a), yaitu mengadopsi karakter dan nilai-nilai-Nya. Hanya dengan mengenakan Kristus, kita dapat menolak keinginan daging dari kehidupan yang lama (ayat 14b).

"Di dalam Kristus kita telah hidup dalam realitas baru. Hidup kita pun harus berpadanan dengan nilai-nilai hidup baru ini, yaitu selalu mengasihi sesama dan menolak perbuatan-perbuatan yang memalukan," ujar Pdt Jheni.

Halaman:

Editor: Frangky Johannis

Tags

Terkini

Prahara Cinta Randy Badjideh

Senin, 9 Mei 2022 | 20:36 WIB
X